Valyuta.com



   



Baku, 16 NovemberXezerİnfo, World. 

Warga Surabaya pada 19 September 1945 digegerkan dengan berkibarnya bendera Belanda di atas Hotel Yamato. Kabar itu cepat menyebar dan membuat geram para pemuda. Arek-arek Suroboyo langsung datang berduyun-duyun berkumpul di depan hotel yang sebelumnya bernama Oranje itu. Indonesia sudah merdeka tapi kenapa bendera tiga warna itu masih berkibar.

Setelah dicari tahu, ternyata biang kerok pemasangan bendera itu adalah WV Ch. Ploegman, pemimpin organisasi Indo Europesche Vereniging (IEV) yang diangkat NICA menjadi Wali Kota Surabaya. Pada 18 September 1945 malam, Ploegman memerintahkan rekan-rekannya mengibarkan bendera Belanda untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada 31 Agustus.

Alhasil Cak Sidik Muljadi dan Hariyono memprotes dan masuk ke hotel dan menemui Ploegman.Di dalam mereka terlibat cekcok perang mulut dan Ploegman mengeluarkan pistol yang diarahkan ke Cak Sidik.Merasa terpojok, Cak Sidik dengan cepat dan spontan menyerang balik.Ia bahkan berhasil menikam dan membunuh Ploegman. Namun, nyawa Cak Sidik juga tak tertolong setelah membunuh Ploegman.Ia juga langsung terbunuh juga oleh pengawal Ploegman.

Sementara itu, di waktu yang sama Hariono dan Koesno keluar dan mencoba memanjat Hotel Yamato menuju tiang bendera. Dengan penuh heroik, mereka berhasil meraih bendera lalu menyobek bagian warna biru. Usai insiden penyobekan, saat mereka hendak turun, Hariyono dan Koesno terkena peluru yang ditembakkan Belanda.Kedua martir itu tumbang jatuh dari atap hotel. 

Menurut Ady Setyawan, pemerhati sejarah Surabaya, meskipun terkena peluru, nasib Hariono lebih baik dari Koesno. Hariono keserempet peluru di kepalanya. Meski ikut jatuh tapi tetap ia selamat, dan nyawanya masih bisa tertolong. Sedangkan Koesno harus meregang nyawa, sebekum meninggal tak lama kemudian.

Ada pesan heroik sebelum Koesno meninggal. Saat dibawa ke rumah sakit Simpang sebelum meninggal, ia masih sempat berpesan agar perjuangan tetap dilanjutkan. "Cak Har, beritahukan pada arek-arek Suroboyo, perjuangan ini jangan sampai berhenti. Merdeka!" ujar Koesno sebelum meninggal.

Insiden di penyobekan bendera di hotel yang sekarang bernama Majapahit itu mempunyai peran penting bagi pengaruh semangat arek-arek Surabaya. Untuk itu ia menyebut Hotel Yamato merupakan salah satu saksi bisu perjuangan menolak penjajahan kembali di Indonesia.

Selasa, 30 Oktober 1945, situasi Surabaya semakin memanas. Di dalam gedung Internatio, kubu dari pasukan Inggris telah terkepung oleh ratusan pejuang republiken dan arek-arek Suroboyo. Pimpinan Inggris saat itu Brigjen AWS Mallaby dan pimpinan dari Indonesia yang diwakili Dul Arnowo sedang berunding mengenai gencatan senjata dan pemindahan pasukan Gurkha Inggris ke Perak.Maklum, pasukan Gurkha terus berbuat ulah dengan menembaki orang-orang lewat yang dianggap republiken.

Meskipun sudah diperintahkan keluar dan pindah dengan jaminan, tampaknya pasukan Gurkha enggan meninggalkan gedung Internatio di pinggir Kalimas tersebut.Suara saling tembak yang sempat terhenti beberapa saat, pecah lagi yang diawali dari Pasukan Gurkha.Peluru pertama Gurkha meletus yang kemudian disahut peluru kedua dan seterusnya dari pejuang.Kontak senjata antara pasukan Inggris dan pemuda Suroboyo tidak bisa dihindakan.Sekonyong-konyong dua kubu langsung saling berlindung dari terkaman peluru. 

Tapi celaka, Komandan Brigade ke-49 Allied Forces In the Netherlands East Indie (AFNEI) Jawa Timur Brigjen AWS Mallaby berada di dalam mobil. Saat hendak meninggalkan gedung internatio dan melewati jembatan merah Ia terjebak di tengah-tengah baku tembak. Ia dinyatakan vermist atau hilang. Sesaat kemudian, ia telah ditemukan tewas tertembak.

Tewasnya Brigjen AWS Mallaby mendapat respon keras oleh atasannya Divisi ke-5 Jawa Timur Jenderal EC Mansergh.Hal inilah yang kemudian membuka jalan lebar menuju pertempuran yang lebih besar yakni 10 November 1945. 

Dalam kronologi waktu pertempuran 10 November 1945, insiden di gedung Internatio merupakan salah satu rangkaian peristiwa yang mengakibatkan terjadinya revolusi di Surabaya.Karena dari insiden Internatio yang menewaskan Mallaby, kemudian lahir ultimatum dari EC Mansergh pada tanggal 9 November 1945. Ultimatum Mansergh ini mengancam jika rakyat Surabaya tidak menyerah esok harinya maka akan diserang dari darat, udara, dan laut oleh sekitar 25 ribu pasukan Inggris.

Namun yang diketahui selanjutnya, arek-arek Suroboyo tak menyerah.Mereka mengabaikan ultimatum itu.Tak ada senjata yang diserahkan dan dilucuti.Arek-arek Suroboyo dengan gagah berani berjuang melawan dan menghadapi serangan pasukan sekutu yang dipimpin Inggris dari darat, laut dan udara pada tanggal 10 November 1945.Peristiwa heroik inilah yang sampai saat ini diperingati di seluruh Indonesia sebagai hari pahlawan.

Ramila Sultanli / XEZERİNFO.AZ




ŞƏRH YAZ


DİGƏR XƏBƏRLƏR

MAQAZİN XƏBƏRLƏRİ

Arxiv